Sabtu, 05 Agustus 2017

SERI BUMI DATAR? BAGIAN 29 : OBSERVASI UNTUK MEMAHAMI BENTUK BUMI



Halo sahabat, pada kesempatan ini saya mengajak sahabat untuk melakukan pengamatan atau observasi untuk belajar mengenali seperti apa bentuk alam semesta yang kita tinggali ini.  Saya sengaja menghindari rumus dan hitungan matematika atau logika yang njlimet agar sahabat lebih bisa menikmatinya.  Di sini pun saya berusaha menghindari hal-hal yang berbau sains, karena ada beberapa sahabat yang masih beranggapan ada kebohongan dalam sains. Hanya dibutuhkan logika dan penalaran sederhana untuk menyimpulkan hasil pengamatan ini. 
Silakan sahabat lakukan observasi berikut ini,

Tiga Bintang  Segaris

Tiga bintang segaris adalah suatu gugus bintang yang terdiri dari tiga buah bintang yang hampir membentuk garis lurus ke bawah.   Nama gugus bintang ini mungkin tidak akan ditemukan di  literatur  manapun, karena memang ini hanyalah penamaan dari saya untuk memudahkan penyebutan.  Seperti inilah ilustrasi gugus tiga bintang segaris. Perhatikan tiga bintang yang hampir membentuk garis lurus.


Saat tulisan ini diposting posisi gugus bintang ini bila dilihat pada  jam 5 pagi  berada di timur dengan ketinggian sekitar 45 derajat.  Bagi sahabat yang ingin melakukan observasi, cobalah selama tiga bulan lihatlah posisi gugus bintang ini setiap jam 5 pagi.  Silakan lakukan pengamatan setiap jam 5 pagi, apakah posisi bintang ini tetap atau terus bergeser ke barat.

Saya punya pengalaman melakukan observasi terhadap gugus bintang ini.  Saya melakukannya sekitar jam 7.30 setiap malam.  Bila sahabat ingin melakukannya sekitar jam 7.30 malam, maka sahabat harus menunggu sekitar setengah tahun lagi.  Karena saat ini pada jam tersebut gugus bintang itu sudah tidak terlihat.  Nah sahabat silakan dicoba, fenomena ini adalah salah satu bahan yang bisa dipertimbangkan untuk menemukan bentuk alam semesta.

Kapal Tenggelam di Horizon

Kapal terlihat seperti tenggelam di horizon menjadi salah satu fenomena yang patut dipertimbangkan untuk memahami bentuk bumi.  Silakan lihat ilustrasi fenomena kapal terlihat seperti tenggelam di horizon seperti di bawah ini.




Jangan buru-buru percaya dengan ilustrasi tersebut, sebaiknya buktikan saja sendiri secara langsung. Silakan rekreasi ke pantai. Bila perlu bawa teropong atau kamera superzoom agar lebih meyakinkan.  Silakan amati kapal besar yang sedang menjauhi daratan atau sebaliknya.  Semoga sahabat bisa menemukan fenomena ini.

Sunset dan Sunrise di Pantai

Bagi sahabat yang suka dengan pemandangan saat sunset atau sunrise di tepi pantai, inilah saatnya membuktikan bahwa matahari benar-benar seperti tenggelam di laut atau muncul dari laut.  Perhatikan ilustrasi di bawah ini.


Saat sunrise atau sunset ketinggian matahari adalah 0 derajat atau lurus dengan bidang datar tempat kaki kita berpijak.  Sementara pada saat yang bersamaan di wilayah lain posisi matahari masih tinggi (bisa kita buktikan dengan menanyakan pada saudara kita misalnya di Timur Tengah atau di Eropa). Mari kita renungkan model bumi seperti apa dan posisi matahari yang bagaimana yang bisa menjelaskan fenomena ini.


Semakin tinggi semakin banyak yang bisa kita lihat

Semakin tinggi posisi kita semakin banyak yang bisa kita lihat.  Hal ini terjadi tidak saja karena ‘saat di atas tidak ada penghalang pandangan’ namun ada hal lain yang menyebabkannya.  Misalnya di tengah lautan yang tanpa penghalang pandangan sekalipun.  Bagi seorang pelaut tentu bisa membedakan saat meneropong dari dek kapal dengan saat meneropong dari menara atau tempat yang lebih tinggi di kapal.  Perhatikan juga menara pengawas pantai, tentu ada maksudnya mengapa dibuat tinggi.

Saat sahabat masih di tepi pantai jangan lewatkan fenomena ini. Posisi kita yang semakin tinggi dari permukaan air laut akan membuat semakin banyak yang bisa kita lihat.  Jika sahabat memiliki teropong atau kamera superzoom itu lebih baik lagi untuk membuktikan fenomena ini.  Silakan lakukan pengamatan dengan ketinggian setengah meter dari air laut, lalu lanjutkan dengan ketinggian 2 meter dan cobalah cari menara atau tempat yang tingginya 8 meter lebih.  Bandingkan perbedaan pemandangan yang bisa disaksikan.  Bila beruntung maka sahabat bisa menemukan objek yang tidak terlihat pada ketinggian 0,5 meter menjadi terlihat pada ketinggian 8 meter.

Silakan gunakan dulu asumsi ini, dengan jari-jari bumi sekitar 6400km, jarak horizon pada ketinggian 0,5 meter adalah sekitar 2,5 km, di ketinggian 2 meter adalah sekitar 5 km dan pada ketinggian 8 meter sekitar 10 km.  Dengan pengamatan ini semoga semakin menuntun sahabat untuk menemukan bentuk bumi yang sebenarnya.


Pesawat memantulkan cahaya matahari saat Maghrib

Saat Maghrib adalah saat di mana matahari baru tenggelam sempurna di horizon.  Itu artinya walaupun dilihat dari tepi pantai yang tanpa halangan apapun matahari sudah tidak tampak.  Nah sahabat saat maghrib cobalah lihat ke atas barangkali ada pesawat yang tidak tertalu tinggi di atas kita.  Bila sahabat beruntung akan melihat badan pesawat yang berkilauan akibat cahaya matahari.  Saya pernah beruntung menyaksikan fenomena ini.   Bagi kita yang berada di bawah, matahari sudah tidak terlihat namun cahaya matahari masih bisa mengenai pesawat di atas.  Fenomena ini juga memperkaya kita untuk bisa menyimpulkan bagaimana bentuk bumi sebenarnya.

Posisi matahari lebih rendah dari pesawat

Bagi sahabat yang pernah naik pesawat mungkin pernah menyaksikan posisi matahari lebih rendah dari pesawat.  Fenomena ini bisa terjadi saat matahari sedang terbit atau terbenam bagi wilayah yang berada tepat di bawah pesawat.  Saat ketinggian pesawat sekitar 10km dpl, penumpang di pesawat akan melibat posisi matahari lebih rendah dari pesawat.  Nah bila sahabat berhasil menemukan fenomena ini silakan dicoba untuk menguji model bumi datar berbentuk cakram dengan jarak matahari sekitar 5000km selalu di atas bumi. Silakan digambar secara geometri di mana posisi pesawat, bumi dan matahari.  Lalu silakan juga lakukan pengujian untuk model bumi yang saat ini umum dipercaya manusia.

Bayangan Ashar

Hisab waktu shalat yang ada saat ini adalah metode untuk menentukan awal masuknya waktu shalat dengan memperkirakan ketinggian matahari dari hitungan astronomi berdasarkan bumi bulat, berotasi dan berevolusi.   Menurut badan hisab, kriteria masuknya waktu ashar adalah saat panjang bayangan benda sama dengan tinggi benda ditambah panjang bayangan saat dhuhur.  Untuk membuktikan bahwa perhitungan astronomi ini benar silakan sahabat lakukan observasi panjang bayangan benda saat Ashar.  Sebelumnya  catat dulu panjang bayangan benda saat awal dhuhur  (lihat di tabel jadwal waktu shalat).  Silakan dibuktikan benarkah panjang bayangan Ashar = tinggi benda + panjang bayangan dhuhur.  

Semakin ke utara bintang utara semakin tinggi

Bagi kita yang tinggal di bumi bagian selatan sulit untuk dapat melihat bintang utara.  Ada sahabat yang mengaku bisa melihat bintang utara dari puncak gunung semeru, ini adalah hal yang mungkin, karena semakin ke atas semakin banyak yang bisa kita lihat.  Sebaliknya bagi sahabat yang tinggal di bumi bagian utara, bintang utara mudah dilihat.   Ada fenomena menarik di sini yaitu semakin ke utara posisi bintang ini semakin tinggi.  Silakan sahabat yang tinggal di sekitar katulistiwa coba lihat posisi bintang utara kemungkinan posisinya amat rendah.  Nah cobalah telepon sahabat yang ada di utara misalnya di Jepang, tanyakan benarkah posisi bintang utara lebih tinggi.
Perhatikan ilustrasi di bawah ini


Mari sahabat kita renungkan bentuk bumi seperti apa yang bisa menjelaskan fenomena ini.  Mengapa sahabat kita di bagian bumi selatan sulit untuk melihat bintang ini, mengapa sahabat di katulistiwa melihat bintang ini dengan ketinggian yang amat rendah dan sahabat di utara melihat bintang ini dengan posisi yang tinggi.  Silakan diuji untuk bumi datar berbentuk cakram di manakah posisi bintang utara, lalu uji juga untuk model alam semesta yang saat ini dipercaya secara umum.

Fase fase gerhana bulan
Saat hendak terjadi gerhana bulan cobalah amati fase-fase kenampakan bulan.  Dari adanya bayangan hitam yang mulai menutupi bulan perlahan-lahan, lalu bulan menghilang sampai muncul kembali sedikit demi sedikit.  Perhatikan bayangan hitam itu bentuknya lingkaran.  Silakan sahabat pikirkan benda apa gerangan bayangan hitam tersebut. 

Fenomena umum
Di samping fenomena yang memerlukan pengamatan, ada juga fenomena yang sudah kita mahfum bahwa ini benar-benar terjadi tanpa kita perlu membuktikan dengan pengamatan yang berarti.  Inilah fenomena umum yang kita rasakan di bumi.

  • Terjadinya siang dan malam secara bergantian, melingkar berurutan di seluruh permukaan bumi.
  • Benda-benda langit seperti matahari, bulan dan bintang-bintang mengalami terbit dan tenggelam setiap hari.
  • Adanya pergantian 4 musim.
  • Posisi matahari yang berubah kadang di utara kadang di selatan
  • Adanya perbedaan dan perubahan lamanya siang dan malam di berbagai belahan bumi.
  • Adanya siklus bulanan ditandai dengan fase-fase bulan
  • Adanya pasang surut air laut
  • Adanya siklus tahunan ditandai dengan pergantian musim.

Mari sahabat kita hayati dari berbagai fenomena tersebut bentuk 
alam semesta seperti apa yang bisa menjelaskan berbagai fenomena tersebut.


Sahabat, sengaja tidak saya simpulkan hasil pengamatan ini.  Saya ingin mengajak sahabat untuk berpikir dengan pikiran yang jernih dengan membuang dulu anggapan bahwa pemahaman alam semesta yang saat ini dipercaya secara umum adalah kebohongan yang dipaksakan.  

Silakan sahabat lakukan pengamatan yang sudah saya paparkan di atas, kalau bisa semuanya akan lebih baik. Jika hanya beberapa juga tidak mengapa karena itu semua sifatnya adalah saling menguatkan.  Saya pun tidak mengklaim semuanya pernah saya lakukan sendiri.  Kemudian dari hasil pengamatan silakan simpulkan sendiri bentuk bumi dan alam semesta seperti apa yang bisa menjelaskan fenomena tersebut.  Kalau memang dari hasil pengamatan itu sahabat menyimpulkan bentuk bumi adalah datar, diam dan berkubah ya silakan itu hak sahabat.

Namun demikian saya berpesan tolong jangan lagi mengatakan pemahaman alam semesta seperti yang dipercaya saat ini adalah kebohongan yang dipaksakan.  Pemahaman bentuk alam semesta yang seperti sekarang ini adalah berdasar pada kesesuaian pengamatan seperti yang sudah dijelaskan di atas diperkuat  bukti secara sains dengan berbagai perhitungan dan percobaan dan diperkuat pula dengan teknologi.  Semuanya saling mendukung tidak ada yang bertentangan.

Sejak Phytagoras (abad 4 SM) dan murid-muridnya menyatakan bentuk bumi adalah bulat maka sudah tidak ada lagi perdebatan bentuk bumi di kalangan orang-orang cerdas. Perdebatan sudah beralih pada masalah bumi diam atau bergerak.  Tiga hal yang mendasari Aristoteles (abad 3 SM) menyimpulkan bentuk bumi bulat yaitu, adanya fenomena kapal terlihat tenggelam di horizon, bintang utara yang semakin tinggi jika dilhat dari utara dan fase-fase bulan saat terjadi gerhana bulan.

Pemahaman bentuk bumi bulat ini diteruskan oleh peradaban Islam jaman keemasan, di mana semua ilmuwan Muslim pada zaman itu meyakini bahwa bentuk bumi adalah bulat.  Saat kemajuan di Eropa pun pemahaman ini berlanjut hingga saat ini.  Tentu kita bisa berpikir tidak ada sedikitpun hal yang mendasari tuduhan bahwa pemahaman bentuk bumi yang bulat adalah kebohongan yang dipaksakan.  Siapa yang membohongi dan siapa yang dibohongi.

Saya khawatir setelah membaca beberapa web yang membongkar habis kebohongan video bumi datar.  Yang saya khawatirkan adalah tujuan sebenarnya video itu bukanlah hendak mengungkap kebenaran. Tapi mohon maaf itu hanyalah kekhawatiran saya saja.  Semoga tidak demikian adanya.  Makanya yang saya tulis di sini lebih kepada sains agar sahabat-sahabat ada tambahan bahan untuk mendapatkan kebenaran dalam sains dan pemahaman yang lebik baik.  Agar tidak mendapatkan ilmu yang keliru.


Pada akhirnya saya tetap menganggap itu semua akibat ketidakfahaman semata dan mungkin juga akibat kurang rajin mencari literatur.  Misalnya keraguan ‘batu bisa menarik daging’.  Padahal ratusan literatur yang menjelaskan percobaan gravitasi (benda satu menarik benda lain karena massanya) bisa didapatkan dengan mudah.  Ada jurnal ilmiah, artikel ilmiah, skripsi dsb, itu semua bisa didapatkan dengan mudah jika kita rajin mencarinya.  

Jika ingin membantah gravitasi mestinya literatur itulah yang dibantah,  misalnya dengan menunjukkan bahwa metode percobaan gravitasi tersebut keliru dsb.  Kalau bantahan kita hanya berupa kalimat “tidak masuk akal batu bisa menarik daging” itu sama saja kita menyerahkan leher kita.  Tragis!!! Membantah akibat tidak faham.  Untungnya kita malah diberi nasehat untuk rajin belajar.

Tarik menarik dua benda bermassa adalah fakta ilmiah, hanya saja gaya tarik ini amat lemah sehingga diperlukan kondisi dan peralatan khusus untuk bisa diamati dan diukur.  Metode yang umum dalam masyarakat sains untuk mengukur gaya tarik ini adalah dengan neraca puntir.  Silakan lihat seri ke-24 bukti empiris gravitasi.  Daripada kita membantah tanpa ilmu lebih baik kita mempelajarinya, insya Allah lebih berguna.

Sahabat, jika ada hal atau sesuatu yang menurut sahabat bertentangan dengan sains dan bentuk alam semesta seperti sekarang ini  silakan boleh bertanya di sini.  Jika saya mampu akan saya jelaskan dan jika saya tidak bisa menjelaskan ya itu karena keterbatasan saya.  Saya bukanlah orang yang tahu segalanya tentang sains.  Namun intinya kita mesti banyak belajar agar bisa mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

Semoga kita mendapatkan pemahaman yang lebih baik.




Tidak ada komentar:

SERI BUMI DATAR?

Bukti Empiris Revolusi Bumi + Pengantar
Bukti Empiris Rotasi Bumi + Pengantar
Bukti Empiris Gravitasi + Pengantar

Seri 43 : Bantahan Cerdas Penganut FE3

Seri 42 : Bantahan Cerdas Penganut FE 2
Seri 41 : Melihat Satelit ISS sedang mengorbit Bumi
Seri 40 : Bantahan Cerdas Penganut FE

Seri 39 : Arah Kiblat Membuktikan Bumi Bulat

Seri 38 : Equation Of Time

Seri 37 : Mengenal Umbra Penumbra dan Sudut Datang Cahaya

Seri 36 : Fase Bulan Bukan Karena Bayangan Bumi
Seri 35 : Percobaan Paling Keliru FE
Seri 34 : Analogi Gravitasi Yang Keliru
Seri 33 : Belajar Dari Gangguan Satelit
Seri 32 : Mengapa Horizon Terlihat Lurus?
Seri 31 : Cara Menghitung Jarak Horizon
Seri 30 : Mengapa Rotasi Bumi Tidak Kita Rasakan
Seri 29 : Observasi Untuk Memahami Bentuk Bumi
Seri 28 : Permukaan Air Melengkung
Seri 27 : Aliran Sungai Amazon
Seri 26 : Komentar dari Sahabat
Seri 25 : Buat Sahabatku (Kisah Kliwon menanggapi surat FE101 untuk Prof. dari LAPAN)
Seri 24 : Bukti Empiris Gravitasi
Seri 23 : Bukti Empiris Revolusi Bumi
Seri 22 : Bukti Empiris Rotasi Bumi
Seri 21 : Sejarah Singkat Manusia Memahami Alam Semesta

Seri 20 : Waktu Shalat 212
Seri 19 : Kecepatan Terminal
Seri 18 : Pasang Surut Air Laut
Seri 17 : Bisakah kita mengukur suhu sinar bulan?
Seri 16 : Refraksi
Seri 15 : Ayo Kita Belajar Lagi
Seri 14 : Perspektif
Seri 13 : Meluruskan Kekeliruan Pemahaman Gravitasi
Seri 12 : Teknik Merasakan Lengkungan Bumi
Seri 11 : Gaya Archimedes terjadi karena gravitasi
Seri 10 : Azimuthal Equidistant
Seri 9 : Ketinggian Matahari pada bumi datar
Seri 8 : Bintang Kutub membuktikan bumi bulat
Seri 7 : Satelit Membuktikan Bumi berotasi
Seri 6 : Rasi Bintang membuktikan bumi berputar dan berkeliling
Seri 5 : Gravitasi membuktikan bumi bulat
Seri 4 : Besi tenggelam dan Gabus terapung
Seri 3 : Gaya gravitasi sementara dirumahkan
Seri 2 : Bola Golf jadi Penantang
Seri 1 : Satelit yang diingkari